Tuesday, 24 September 2013
MUTASI
Pewarisan Sifat [ Hereditas ]
Telah
banyak permasalahan yang menyangkut tubuh manusia, seperti penyakit
dan kelainan pada manusia dapat dipecahkan berkat genetika aplikasi.
Namun penggunaan manusia sebagai obyek penelitian oleh para ahli
seringkali mengalami kesulitan, antara lain :
- Jarang sekali orang yang bersedia dijadikan sebagai obyek penelitian.
- Sukar sekali penyelidik menganjurkan orang agar menuruti kemauannya. Misalnya untuk kawin dengan seseorang yang sedang diselidiki.
- Penyelidik mengalami kesukaran dalam mengamati pertumbuhan karakter yang menjurus kepada kemauan peneliti.
- Manusia termasuk jenis makhluk yang mempunyai keturunan relative sedikit sehingga data yang didapat dari perbandingan karakter tertentu sangat sedikit. Secara statistic hal ini kurang memenuhi syarat.
- Umur manusia dan daur hidupnya panjang.
- Manusia dibandingkan dengan hewan atau tumbuhan hamper tidak bias dikontrol suasana lingkungannya.
Karena kesukaran tersebut di atas, maka dalam mempelajari genetika manusia biasanya digunakan cara-cara lain, antara lain :
- Pedigree (peta silsilah) ialah catatan asal usul suatu sifat dari nenek moyang hingga anak cucu selama beberapa generasi berturut-turut.
- Meneliti genetika pada hewanyang mungkin mempunyai sifat atau karakter yang dapat diterapkan pada manusia
- Mempelajari penurunan sifat pada anak kembar. Pada anak kembar sering ditemukan adanya persamaan sifat sehingga dapat dipelajari peristiwa penurunannya.
Hemofilia seringkali disebut dengan “The Royal Diseases” atau penyakit kerajaan.Ini di sebabkan Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837 – 1901) adalah seorang pembawa sifat/carrier
hemofilia. Anaknya yang ke delapan, Leopold adalah seorang hemofilia
dan sering mengalami perdarahan. Keadaan ini di beritakan pada British Medical Journal
pada tahun 1868. Leopold meninggal dunia akibat perdarahan otak pada
saat ia berumur 31 tahun. Salah seorang anak perempuannya, Alice,
ternyata adalah carrier hemofilia dan anak laki-laki dari Alice, Viscount Trematon, juga meninggal akibat perdarahan otak pada tahun 1928.
1. Jenis Kelamin
Jenis
kelamin pada manusia dikendalikan oleh sepasang kromosom seks, yaitu
kromosom XX untuk perempuan dan kromosom XY untuk laki-laki. Berdasarkan
susunan tersebut, kromosom perempuan bersifat homogametic, sedangkan
susunan kromosom seks laki-laki bersifat heterogametic. Bila terjadi
pembelahan meiosis, maka seorang perempuan hanya akan menghasilkan satu
macam sel gamet yaitu X, sedangkan laki-laki akan menghasilkan dua
macam sel gamet yaitu X dan Y.
Perhatikan skema berikut ini
Dari
skema tersebut nampak jelas bahwa yang menentukan jenis kelamin anak
adalah ayah, sebab ibu hanya menghasilkan satu macam kromosom seks,
sedangkan ayah menghasilkan dua macam kromosom seks. Seorang ibu akan
memberikan jenis kromosom seks yang sama baik kepada anak laki-laki
maupun anak perempuan, sedangkan ayah akan memberikan kromosom X kepada
anak perempuan dan kromosom Y kepada anak laki-laki.
Penyakit menurun (cacat yang diwariskan) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. tidak dapat menularb. tidak dapat disembuhkan
c. dapat dihindarkan
d. umumnya dikendalikan oleh gen resesif
Karena
penyakit menurun umumnya bersifat resesif, maka hanya muncul pada orang
yang homozigot resesif, sedangkan orang yang heterozigot bersifat
normal carrier (pembawa sifat). Cacat atau penyakit menurun pada manusia
ada yang diwariskan melalui autosom dan ada pula yang diwariskan
melalui kromosom seks (seks linkage= terpaut seks).
Cacat dan Penyakit Menurun Yang Tidak Terpaut Seks (terpaut pada autosom)
- Albino (albinisme/bule)
Albino
adalah penyakit menurun dimana pada kulit manusia tidak mempunyai
pigmen pewarna kulit. Kata itu berasal dari bahasa Yunani “albus, yang
berarti putih” Seseorang yang albino mempunyai mata berwarna merah
jambu, dan ini disebabkan karena darah yang merah tampak mengalir di
retina mata. Mata Albino sangant peka terhadap cahaya. Jadi orang albino
yang demikian selalu menjaga agar kelopak matanya setengah tertutup
dengan selalu berkedip. Rambut albino putih di seluruh tubuhnya. Bahkan
jaringan didalam tubuhnya seperti otak dan syaraf tulang belakang
berwarna putih.
Sifat
albino dibawa factor resesif yang terdapat dalam kromosom tubuh
(autosom). Sifat albino dapat muncul pada anak yang bapak dan ibunya
normal heterozigot atau salah satu orang tuanya albino sedangkan yang
lainnya heterozigot.
Lebih jelasnya mengenai penurunan sifat cacat albino, perhatikan contoh soal berikut.
Gen A adalah gen yang mengatur pigmentasi kulit. Adapun gen a merupakan alelnya, yakni gen yang tidak menyebabkan pigmentasi kulit. Jika seseorang albino menikah dengan orang normal homozigot, bagaimanakah keturunannya? Lalu, jika keturunannya tersebut menikah dengan orang albino maka bagaimana keturunan selanjutnya?
Jawab:
Gen A adalah gen yang mengatur pigmentasi kulit. Adapun gen a merupakan alelnya, yakni gen yang tidak menyebabkan pigmentasi kulit. Jika seseorang albino menikah dengan orang normal homozigot, bagaimanakah keturunannya? Lalu, jika keturunannya tersebut menikah dengan orang albino maka bagaimana keturunan selanjutnya?
Jawab:
2. Gangguan Mental
Yang
termasuk gangguan mental adalah debil, imbisil, idiot. Sifat menurun
dikendalikan oleh gen resesif tidak terpaut seks. Orang yang mengalami
gangguan mental antara lain mempunyai ciri :
- menunjukkan gejala kebodohan
- reaksi refleknya lamban
- rambut dan kulit kekurangan pigmen
- umumnya tidak berumur panjang
- jarang mempunyai keturunan
- bila urinnya diberi larutan ferioksida
5% akan menghasilkan warna hijau kebiruan. Hal ini menunjukkan bahwa
dalam urinenya terdapat senyawa derifat fenilketouria (FKU)
3. Brachydactily (jari pendek)
Penderita
Brachydactily mempunyai jari-jari yang pendek karena tulang palanges
(ruas jari) pendek. Hal ini disebabkan oleh gen dominant (B). Apabila
gen-gen ini berada dalam keadaan homozigot dominant (BB) akan
menyebabkan kematian (letal), dalam keadaan heterozigot (Bb) menderita
Brachydactily, sedangkan dalam keadaan homozigot resesif (bb) adalah
normal.
4. Polidactily
Polidactily
merupakan kelainan berupa kelebihan jumlah jari tangan dan kaki.
Kelainan/cacat ini bersifat menurun. Kelainan ini diwariskan oleh gen
autosom dominan P, sedangkan gen p mwariskan sifat normal. Orang normal
memiliki genotip pp, sedangkan penyandang polidaktily genotipnya PP atau
Pp.
5. Thalasemia
Thalasemia
adalah kelainan genetik yang disebabkan rendahnya kemampuan
pembentukkan hemoglobin. Hal ini dapat terjadi karena gangguan salah
satu rantai globin. Thalasemia menyebabkan kemampuan eritrosit dalam
mengangkut oksigen menjadi rendah sehingga menyebabkan anemia.
Thalasemia dapat dibedakan menjadi thalasemia mayor dan thalasemia
minor. Thalasemia mayor (ThTh) biasanya menyebabkan kematian, sedangkan
thalasemia minor (Thth) tidak terlalu parah.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh persilangan individu Thalasemia berikut.
Dentinogenesis
Imperfecta adalah kelainan pada gigi manusia yang menyebabkan tulang
gigi (dentin) berwarna seperti air susu. Kelainan ini disebabkan oleh
gen dominan Dt, sedangkan keadaan normal diatur oleh gen dt. Contoh
persilangannya adalah sebagai berikut.
Cacat dan Penyakit Menurun Yang Tertaut Seks (Sex linkage)
Tautan
seks terjadi pada kromosom seks (gonosom), baik pada kromosom X maupun
kromosom Y. Beberapa contoh peristiwa tautan seks yang terjadi pada
manusia adalah buta warna dan hemofilia. Peristiwa tautan ini terjadi
pada kromosom X. Adapun peristiwa tautan seks yang terjadi pada kromosom
Y, contohnya hystrixgravier, yaitu pertumbuhan rambut kasar seperti
landak (hg), hypertrichosis yaitu pertumbuhan bulu panjang pada telinga
(ht), dan webbedtoes yaitu adanya selaput pada jari (Wb).
a. Buta warna
Buta warna adalah penyakit keturunan yang menyebabkan seseorang tidak bisa membedakan warna merah dengan biru, atau kuning dengan hijau. Penyakit keturunan ini disebabkan oleh gen resesif cb (color blind). Gen buta warna terpaut pada kromosom X
Sebagaimana penderita hemofilia, pada penderita buta warna juga memiliki genotip yang berbeda antara wanita dan laki-laki. Genotip buta warna dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Genotip wanita buta warna:
XXcb = heterozigot = normal carrier = pembawa sifat
XcbXcb = homozigot resesif = penderita buta warna
2) genotip laki-laki buta warna:
XcbY = laki-laki buta warna
alat untuk mengetahui apakah seseorang butawarna atau tidak…??
Buta warna adalah penyakit keturunan yang menyebabkan seseorang tidak bisa membedakan warna merah dengan biru, atau kuning dengan hijau. Penyakit keturunan ini disebabkan oleh gen resesif cb (color blind). Gen buta warna terpaut pada kromosom X
Sebagaimana penderita hemofilia, pada penderita buta warna juga memiliki genotip yang berbeda antara wanita dan laki-laki. Genotip buta warna dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Genotip wanita buta warna:
XXcb = heterozigot = normal carrier = pembawa sifat
XcbXcb = homozigot resesif = penderita buta warna
2) genotip laki-laki buta warna:
XcbY = laki-laki buta warna
alat untuk mengetahui apakah seseorang butawarna atau tidak…??
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh soal persilangan terkait penurunan penyakit buta warna berikut.Seorang laki-laki penderita buta warna (cb) merah dan hijau beristrikan wanita norma, tetapi pembawa sifat buta warna (carrier). Tentukan persentase anak yang mungkin lahir.
Jawab:
Jadi,
kemungkinan anaknya 50% normal (terdiri dari 25% wanita normal dan 25 %
laki-laki normal) dan 50% anak menderita buta warna (terdiri dari 25%
wanita buta warna dan 25 % laki-laki buta warna).
b. Hemofilia
Hemofilia adalah penyakit keturunan yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku. Penderita hemofilia jika terluka darahnya akan membeku sekitar 50 menit hingga 2 jam. Hal ini akan mengakibatkan penderita mengalami kehilangan banyak darah dan dapat menimbulkan kematian. Penyakit ini dikendalikan oleh gen resesif (h) yang terpaut kromosom X. Contoh silsilah penyakit hemofilia adalah pada keluarga kerajaan Eropa. Ratu Victoria dari Inggris menderita hemofilia.
Penderita hemofilia memiliki
genotip yang berbeda antara wanita dan laki-laki. Genotip hemofilia
dapat dibedakan sebagai berikut.Hemofilia adalah penyakit keturunan yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku. Penderita hemofilia jika terluka darahnya akan membeku sekitar 50 menit hingga 2 jam. Hal ini akan mengakibatkan penderita mengalami kehilangan banyak darah dan dapat menimbulkan kematian. Penyakit ini dikendalikan oleh gen resesif (h) yang terpaut kromosom X. Contoh silsilah penyakit hemofilia adalah pada keluarga kerajaan Eropa. Ratu Victoria dari Inggris menderita hemofilia.
1) Genotip wanita hemofilia:
HH = XHXH = homozigot dominan = normal
Hh = XHXh = heterozigot = normal carrier = pembawa sifat
hh = XhXh = homozigot resesif = penderita hemofilia
2) genotip laki-laki hemofilia:
XHY = laki-laki normal
XhY = laki-laki hemofilia
Untuk memperjelas, berikut ini contoh soal mengenai persilangan yang melibatkan gen hemofilia yang tertaut kromosom seks X.
Seorang wanita carrier hemofilia bersuamikan laki-laki normal. Tentukan persentase anak-anak yang mungkin lahir.
Jawab:
PEMBELAHAN SEL
Bab 4 Pembelahan Sel
Sel
merupakan unit terkecil dalam tubuh kita yang masih memiliki fungsi dan
sifat yang sama seperti organ-organ. Mengapa demikian? Sel
berdeferensiasi, menjadi sel-sel bersifat tertentu dan khusus, untuk
membentuk suatu jaringan, yang kemudian akan menjadi organ. Pembelahan
sel ini dialami oleh semua makhluk hidup, baik monera, protista, fungi,
tumbuhan, dan hewan, serta manusia.
Pembelahan
sel dibagi menjadi tiga (3) golongan, yaitu Amitosis, Mitosis dan
Meiosis. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing golongan:
I. AMITOSIS
Amitosis
atau pembelahan biner adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri
secara langsung tanpa melalui tahap-tahap yang kompleks. Dalam
pembelahan amitosis, sel membelah begitu saja atau bersifat spontan.
Pembelahan ini terjadi pada prokariotik (tidak memiliki membran inti
sel), berukuran relatif kecil, dan berbentuk sirkuler seperti bakteri
dan ganggang hijau-biru (euglenophyta).
Berikut itu merupakan tahap-tahap pembelahannya:
1. Kromosom bakteri menempel pada membran plasma
2. Bagian DNA yang menempel mengalami replikasi selama sel tumbuh, hingga seluruh replikasi DNA selesai
3. Sel mulai membelah
4. Terbentuk dua sel anakan
II. MITOSIS
Mitosis
adalah cara reproduksi sel di mana sel membelah melalui tahap-tahap
yang teratur. Mitosis pada akhirnya akan menghasilkan dua (2) sel anakan
yang diploid (2n) dan identik. Pembelahan ini terjadi selama masa
pertumbuhan sel tubuh (somatik) dan reproduksi aseksual. Pada tumbuhan
berbunga, bagian yang paling aktif membelah adalah di ujung akar dan
tunas batang, yaitu daerah meristematik. Pada hewan dan manusia,
pembelahan ini terjadi pada sel meristem somatik (muda). Sel memiliki
siklus yang terdiri dari periode pertumbuhan atau interfase, dan fase
pembelahan atau mitotik.
Berikut merupakan tahap-tahap pembelahan mitosis:
1. Fase istirahat (interfase) adalah masa ketika DNA di kopi menjadi 2 salinan
• Fase gap-1, pada masa ini belum terjadi replikasi DNA
• Fase sintesis, pada masa ini terjadi replikasi (dari 1 copy menjadi 2 copy)
• Fase gap-2, pada masa ini replikasi telah selesai
•
Profase awal : Pada hewan, sentriol membelah dan bergerak ke kutub
berlawanan pada nukleus. Setelah itu terbentuk benang-benang spindel
yang terhubung dari kutub satu ke kutub lainnya. Pada tumbuhan, benang
spindel tidak terikat pada sentriol.
• Profase akhir : Kromosom terlihat terdiri dari 2 kromatid yang terikat pada sentromer. Nukleolus hilang, membran inti hancur.
•
Metafase : Fase ini singkat. Kromosom terikat pada benang spindel di
sentromernya. Lalu kromosom bergerak ke bidang ekuator agar informasi
DNA rata.
• Anafase : Fase ini juga
termasuk singkat. Sentromer (bagian tengah kromosom, tempat pekukan dan
pelekatan lengan kromatid) membelah. Kromatid bergerak ke kutub
pembelahan. Ini terjadi karena kontraksi benang spindel (memendek,
menarik kromatid jadi 2). Pada akhir fase, akan menghasilkan salinan
kromosom berpasangan
• Telofase :
Kromatid telah disebut kromosom. Membran inti mulai terbentuk dan
nukleolus muncul. Kromosom membentuk benang kromatin. Akhirnya, terjadi
sitokinesis.
3. Sitokinesis (pembelahan sitoplasma)
Pada hewan :
i. Penguraian benang spindel
ii. Pembentukan cincin mikrofilamen di bekas bidang ekuator
iii. Terjadi kontraksi ke arah dalam (cincin jadi erat) yang membagi sel menjadi 2
iv. Terbentuk 2 sel anakan
Pada tumbuhan:
i. Vesikel mengumpul di ekuator benang spindel (berasal dari badan Golgi)
ii. Terjadi fusi partikel
iii. Terbentuk sekat sel
iv. Terbentuk 2 sel anakan
III. MEIOSIS
Meiosis
adalah cara reproduksi yang mengalami 2 kali pembelahan yaitu meiosis I
dan II. Antara meiosis I dan II ada tahap antara yang disebut
interkinesis. Berikut merupakan tahap-tahap pembelahan meiosis:
1. Meiosis I
• Interfase : persiapan untuk pembelahan, terjadi replikasi DNA
•
Profase I : DNA dikemas ke dalam kromosom. Pada akhir profase I,
terbentuk kromosom homolog (sepasang kromosom yang terdiri dari 2
kromosom identik) yang berpasangan membentuk tetrad. Terdiri dari 5
tahap, yaitu:
i. Leptoten : kromatin berubah jadi kromosom.
ii.
Zigoten : sentrosom membelah menjadi 2. Bergerak menuju kutub yang
berlawanan. Kromosom dari ke-2 nya lalu berpasangan (sinapsis).
iii.
Pakiten : Tiap kromosom bereplikasi jadi 2 kromatid (sentromer tetap
menyatu). Kromosom berpasangan mengandung 4 kromatid yang disebaut
tetrad.
iv. Diploten : Kromosom homolog
saling menjauhi. Saat menjauh terjadi perlekatan berbentuk ‘X’ pada
suatu tempat di kromosom (Kiasma). Kiasma adalah bentuk persilangan dua
dari 4 kromosom dengna pasangan kromosom homolognya, juga merupakan
tempat terjadinya peristiwa pindah silang.
v.
Diakinesis : Terbentuk benang-benang spindel dari pergerakan 2 sentriol
ke kutub berlawanan. Nukleolus dan membran nukleus hancur. Tetrad
bergerak ke bidang ekuator.
• Metafase I :
Tetrad kromosom berada pada bidang ekuator. Benang-benang spindel
melekatkan diri pada tiap sentromer kromosom. Ujung lainnya melekat di
kutub pembelahan yang berlawanan.
•
Anafase I : Tiap kromosom homolog mulai ditarik oleh benang spindel
menuju kutub. Fase ini dilakukan agar diploid menjadi haploid.
• Telofase I : Tiap kromosom telah mencapai kutub.
• Sitokinesis I : Tiap kromosom homoloh dipisahkan oleh sekat. Menghasilkan 2 sel, masing-masing dengan 2 kromatid kembar.
Bila pada pembelahan sel, tahap berakhir
sampai sitokinesis, sel-sel yang melakukan pembelahan meiosis masih
terus mengalami pembelahan, yaitu seperti berikut:
2. Meiosis II
• Profase II : kromatid kembaran masih melekat pada tiap sentromer kromosom.
• Metafase II : Tiap kromosom (2 kromatid) merentang di ekuator. Terbentuk benang-benang spindel.
•
Anafase II : Benang spindel mulai menarik kromatid. 2 kromatid menuju
ujung yang berbeda. Yang telah terpisah ini disebut kromosom.
• Telofase II : Telah mencapai kutub. Terbentuk 4 inti, masing-masing haploid dan hanya memiliki satu salinan DNA.
• Sitokinesis II : Tiap inti mulai dipisahkan oleh sekat sel, terakhir jadi 4 sel kembar haploid.
PERTUMBHAN DAN PERKEMBANGAN
Pertumbuhan dan Perkembangan
A. Pengertian Pertumbuhan dan PerkembanganPertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa.
Pertumbuhan dan perkembangan memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Misalnya pada manusia, dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya. Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi, setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin.
Pertumbuhan dan perkembangan membawa manusia kepada kedewasaan. Setelah dewasa, manusia dapat menghasilkan keturunan sehingga populasi manusia akan terjaga kelestariannya. Sekarang, coba kamu bayangkan jika tidak terjadi pertumbuhan dan perkembangan pada manusia? Mungkin populasi manusia akan punah. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Jika hewan dan tumbuhan tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan, maka akan mengalami kepunahan.
Pada tumbuhan, perkembangan ini menghasilkan bermacam-macam jaringan dan organ tumbuhan. Pertumbuhan dan perkembangan pada hewan berbedabeda antara spesies satu dengan spesies yang lain. Tetapi, pada dasarnya memiliki persamaan tahapan perkembangan, yaitu sebagai berikut.
- P embelahan Sel
- Morfogenesis
- Diferensiasi
- Pertumbuhan
B. Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan
Perkembangan pada tumbuhan diawali dengan fertilisasi. Pada awal perkembangannya, embrio mendapatkan makanan dari kotiledon. Kotiledon terdapat pada biji tumbuhan tingkat tinggi. Tumbuhan dikotil memiliki dua kotiledon, sedangkan monokotil memiliki satu kotiledon. Pertumbuhan awal tumbuhan dari biji menjadi tanaman baru disebut perkecambahan. Berdasarkan letak kotiledonnya, perkecambahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu epigeal dan hipogeal. a. P ada perkecambahan epigeal, kotiledon terdapat di permukaan tanah karena terdorong oleh pertumbuhan hipokotil yang memanjang ke atas.
b. Pada perkecambahan hipogeal, kotiledon tetap berada di bawah tanah, sedangkan plumula keluar dari permukaan tanah disebabkan pertumbuhan epikotil yang memanjang ke arah atas.
Pertumbuhan pada tumbuhan terjadi di meristem (titik tumbuh) yang terdapat pada ujng akar dan batang. Meristem akan mengalami pembelahan mitosis. Oleh karena itu, ujung batang dan ujung batang akan bertambah panjang dan besar.
Pertumbuhan disebabkan oleh pertambahan besar dan panjang sel-sel itu sendiri. Pada batang terdapat dua jenis tunas, yaitu tunas yang letaknya di ujung batang yang disebut tunas terminal dan mengandung meristem apikal, serta tunas samping yang nantinya membentuk cabang batang, daun, dan bunga.
Batang tumbuhan selain bertambah panjang juga dapat bertambah besar. Hal ini dikarenakan adanya aktivitas kambium, yang termasuk jaringan meristem yang sel-selnya aktif membelah. Letak kambium di antara jaringan xilem dan floem. Kambium akan terus membentuk jaringan xilem dan floem baru sehingga batang makin lama akan menjadi besar. Aktivitas kambium meninggalkan batas yang jelas pada batang. Batas ini disebut lingkaran tahun.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan
Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormon, air dan nutrisi, cahaya, oksigen, suhu, kelembapan, dan pH.
- Faktor Genetik
- Faktor Hormon
- a. Auksin
- b. Sitokinin
3) Memperkecil dominasi apikal sehingga mendorong pertumbuhan tunas samping dan perluasan daun. 4) Memacu pembelahan sel dalam jaringan meristematik. 5) Merangsang pembentukan pucuk dan mampu memecah
masa istirahat biji.
- c. Giberelin
- d. Gas Etilen
masih berwarna hijau yang disimpan dalam kantung tertutup agar cepat masak. Gas etilen juga berfungsi memacu perkecambahan biji, menebalkan batang, mendorong gugurnya daun, menunda pembungaan, dan menghambat pemanjangan batang kecambah.
- e. Asam Absisat
- Faktor Air dan Nutrisi
Unsur-unsur yang dibutuhkan tumbuhan dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu zat-zat organik dan anorganik. Zat organik, seperti C, H, O, dan N, sedangkan zat anorganik, seperti Fe, Mg, K, dan Ca. Pertumbuhan tanaman akan terganggu jika salah satu unsur yang dibutuhkan tidak terpenuhi. Misalnya, kurangnya unsur nitrogen dan fosfor pada tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Kekurangan magnesium dan kalsium menyebabkan tanaman mengalami klorosis (daun berwarna pucat).
- Faktor Cahaya
Efek cahaya meningkatkan kerja enzim untuk memproduksi zat metabolik untuk pembentukan klorofil. Sedangkan, pada proses fotosintesis, intensitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis saat berlangsung reaksi terang.
D. Pertumbuhan dan Perkembangan pada Hewan
Hewan juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan pada hewan adalah hasil proses pembelahan mitosis sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan sel membesar sehingga tubuh hewan menjadi besar dan panjang. Sedangkan, perkembangan adalah diferensiasi sel yang mengalami pembelahan menuju individu dewasa. Pertumbuhan pada hewan sering disebut juga perkembangan, yaitu perkembangan dari zigot sampai dewasa. Pertumbuhan dimulai dengan peleburan ovum (sel telur) dengan spermatozoa (sel sperma), dan dihasilkan zigot. Zigot akan bermitosis terus-menerus.
Fase-fase perkembangan zigot melalui beberapa tahap, yaitu:
- a. Stadium Morula
- b. Stadium Blastula
- c. Stadium Gastrula
- d. Organogenesis (Pembentukan Organ)
Setelah organogenesis selesai, selanjutnya penyempurnaan embrio menjadi fetus yang telah siap dilahirkan (hewan tingkat tinggi).
Pada hewan vertebrata, ada dua jenis tempat perkembangan embrio, yaitu di luar tubuh induk dan di dalam tubuh induk. Embrio tumbuh di luar tubuh induknya, misalnya pada ikan, reptil, amfibi, dan burung. Sedangkan, embrio tumbuh di dalam tubuh induknya, yaitu dalam rahim (uterus). Embrio di dalam uterus lamanya tergantung jenis hewan.
Pada serangga dan amfibi, dalam perkembangannya menjadi hewan dewasa mengalami perubahan bentuk yang berbeda dengan tahap sebelumnya. Hal ini disebut metamorfosis. Perkembangan ini terjadi mulai dari telur atau larva dan akan mencapai kematangan seksual pada saat dewasa.
Metamorfosis dibagi menjadi dua macam, metamorfosis sempurna dan tidak sempurna. Contoh metamorfosis sempurna adalah pada kupu-kupu dan katak. Sedangkan, metamorfosis tidak sempurna terjadi pada belalang.
Metamorfosis pada katak melalui beberapa fase, yaitu:
telur → berudu → katak berekor → katak dewasa
Sedangkan, metamorfosis pada belalang adalah: telur → larva → dewasa.
E. Pertumbuhan dan Perkembangan pada Manusia
Manusia mengalami dua tahap pertumbuhan dan perkembangan, yaitu prakelahiran dan pascakelahiran. Berikut ini adalah uraian tentang tahapan pertumbuhan prakelahiran dan pascakelahiran pada manusia.
- Pertumbuhan Prakelahiran
- a. Fertilisasi (Pembuahan)
- b. Hari ke-6 s.d 9
- c. Minggu ke-2
- d. Minggu ke-3
- e. Minggu ke-4
- f. Minggu ke-5
- g. Minggu ke-6
- h. Minggu ke-8
- i. Minggu ke-10
- j. Minggu ke-11 s.d 13
- k. Minggu ke-14
- l. Minggu ke-15 s.d 16
- m. Minggu ke-19
- n. Minggu ke-24
- o. Minggu ke-38
- Pertumbuhan Pascakelahiran
- a. Masa Balita dan Anak-Anak
Setelah bayi lahir, penyesuaian yang pertama kali adalah pernapasan karena setelah lahir persediaan O
dari ibu terputus. Saat bayi lahir, perubahan mendadak antara udara yang hangat di dalam rahim dengan udara luar yang dingin menyebabkan bayi menangis sehingga menarik udara masuk paru-paru dan pernapasan pun dimulai.
Pada saat bayi lahir, gigi susu serta gigi seri telah ada pada gusi. Namun, gigi susu biasanya tumbuh pada usia enam bulan atau tujuh bulan. Gigi bawah tumbuh lebih dulu daripada gigi atas. Geraham pertama muncul antara umur 12 dan 16 bulan, kemudian gigi taring menyusul.
Pada usia 1 bulan, bayi mulai membalikkan kepala, belajar memfokuskan mata, serta mengkoordinasikan mata de ngan mengikuti benda bergerak. Usia 2 bulan mulai tersenyum. Selanjutnya, bayi mengkoordinasikan tangan untuk memegang benda.
Umur 3 bulan, bayi sudah mulai belajar bersuara. Umur 6 bulan bayi sudah mulai dapat membedakan antara orang yang dikenalnya dan orang asing. Memasuki umur 7 bulan, bayi mulai berputar, duduk, kemudian merangkak, belajar berdiri sambil berpegangan. Selanjutnya, berdiri tanpa berpegangan di akhir tahun pertama. Selain itu, mulai belajar meniru bermacam-macam bunyi yang memiliki arti tertentu.
Tahun kedua, telah mengetahui hubungan dirinya dengan keluarga, dan ingin mengetahui semuanya. Perhatian mu dah teralihkan. Antara umur 1 – 3 tahun, bayi belajar memusatkan perhatian dan minat pada benda-benda, belajar untuk tidak tergantung pada orang lain. Perasaan cemas dan takut mulai ada. Belajar lebih cepat, dapat berjalan, mulai berceloteh hingga bercakap-cakap, menyelidiki rumah dan sekitarnya, serta belajar makan sendiri.
Antara umur 3 – 6 tahun, sifat keingintahuan sangat menonjol. Banyak bertanya, kemampuan pengamatan bertambah dengan teratur sehingga mulai mampu memecahkan teka-teki sederhana. Angan-angan anak berkembang pesat, penuh imajinasi, misalnya teman main pura-pura, ayah khayalan, dan meniru orang tua.
- b. Masa Remaja dan Masa Pubertas
Pada masa remaja terjadi perubahan dalam pertumbuhan fisik yang meliputi pertumbuhan dan kematangan kepribadian. Masa ini merupakan tahap manusia menuju kedewasaan sering disebut dengan masa pubertas.
Dalam masa pubertas ini, pertumbuhan badan terjadi sangat cepat, masa ini adalah masa pematangan, baik pada laki-laki maupun perempuan. Saat masa pubertas inilah laki-laki dan perempuan telah mampu menghasilkan sperma dan ovum (sel telur) yang ditandai dengan ciri-ciri seks sekunder.
Masa pubertas pada perempuan biasanya terjadi pada usia 9 – 13 tahun. Perempuan akan bertambah tinggi dan badan yang gemuk menjadi ramping dengan cepat.
Ciri-ciri seks sekunder pada perempuan yang dapat dilihat, misalnya payudara membesar, panggul membesar, rambut tumbuh di sekitar alat kelamin dan ketiak, kadang timbul jerawat. Selain itu, kematangan organ reproduksi ditandai dengan mendapatkan haid (menstruasi) yang pertama. Hal ini menandai adanya pelepasan pertama ovum dari indung telur. Pertambahan tinggi badan melambat.
Masa pubertas pada laki-laki terjadi antara umur 10 – 14 tahun. Pada masa ini kematangan organ reproduksi ditandai dengan terbentuknya sperma dan terjadi pengeluaran sperma pada saat tidur (mimpi basah).
Ciri-ciri seks sekunder pada laki-laki, misalnya tumbuh rambut di sekitar alat kelamin, ketiak, tumbuh kumis, jenggot, tumbuh jakun, suara menjadi besar, otot-otot membesar, dan dada menjadi bidang. Setelah usia 14 tahun, pertambahan tinggi akan berkurang atau melambat. Pada masa pubertas kecerdasan berkembang cepat, kecepatan dan ketepatan keterampilan motorik menonjol, dan perkembangan mental terbentuk.
- c. Masa Dewasa
- d. Manula
Pada wanita (umur 48-50) mengalami menopause, yaitu berakhirnya kemampuan organ reproduksi menghasilkan ovum. Pada laki-laki kemampuan seksual kemungkinan menurun.
Penurunan yang teratur dalam hal penciuman, pendengaran, penglihatan, dan ingatan. Pada masa usia lanjut sering terjadi gangguan kesehatan. Hal ini tergantung pada manusia, bagaimana memelihara dan menjaga kesehatan tubuhnya. Masa ini, tanggung jawab manusia biasanya sudah berkurang.
GENETIKA
Pada tahun 1868 seorang mahasiswa
kedokteran di Swedia, J.F. Miescher, menemukan suatu zat kimia bersifat asam
yang banyak mengandung nitrogen dan fosfor. Zat ini diisolasi dari nukleus sel
nanah manusia dan kemudian dikenal dengan nama nuklein atau asam nukleat.
Meskipun ternyata asam nukleat selalu dapat diisolasi dari nukleus berbagai
macam sel, waktu itu fungsinya sama sekali belum diketahui.
Dari hasil analisis kimia yang
dilakukan sekitar empat puluh tahun kemudian ditemukan bahwa asam nukleat ada
dua macam, yaitu asam deoksiribonukleat atau deoxyribonucleic acid
(DNA) dan asam ribonukleat atau ribonucleic acid (RNA).
Pada tahun 1924 studi mikroskopis menunjukkan bahwa DNA terdapat di dalam
kromosom, yang waktu itu telah diketahui sebagai organel pembawa gen (materi
genetik). Akan tetapi, selain DNA di dalam kromosom juga terdapat protein
sehingga muncul perbedaan pendapat mengenai hakekat materi genetik, DNA atau
protein.
Dugaan DNA sebagai materi genetik
secara tidak langsung sebenarnya dapat dibuktikan dari kenyataan bahwa hampir
semua sel somatis pada spesies tertentu mempunyai kandungan DNA yang selalu
tetap, sedangkan kandungan RNA dan proteinnya berbeda-beda antara satu sel dan
sel yang lain. Di samping itu, nukleus hasil meiosis baik pada tumbuhan maupun
hewan mempunyai kandungan DNA separuh kandungan DNA di dalam nukleus sel
somatisnya.
Meskipun demikian, dalam kurun waktu yang cukup lama fakta semacam itu
tidak cukup kuat untuk meyakinkan bahwa DNA adalah materi genetik. Hal ini
terutama karena dari hasil analisis kimia secara kasar terlihat kurangnya
variasi kimia pada molekul DNA. Di sisi lain, protein dengan variasi kimia yang
tinggi sangat memenuhi syarat sebagai materi genetik. Oleh karena itu, selama
bertahun-tahun protein lebih diyakini sebagai materi genetik, sementara DNA
hanya merupakan kerangka struktur kromosom. Namun, pada pertengahan tahun
1940-an terbukti bahwa justru DNA-lah yang merupakan materi genetik pada
sebagian besar organisme.
2.2 DNA
Sebagai Materi Genetik
Saat ini orang mengetahui bahwa gen
merupakan seberkas fragmen dari DNA yang dapat diekspresikan sesuai dengan
keperluan. DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid): adalah sejenis asam
nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme.
Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel.
Secara garis besar, peran DNA di
dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak
biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme. Di
antara perkecualian yang menonjol adalah beberapa jenis virus (dan virus tidak
termasuk organisme) seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).
DNA merupakan polimer yang terdiri
dari tiga komponen utama, yaitu gugus fosfat, gula deoksiribosa, dan basa
nitrogen. Sebuah unit monomer DNA yang terdiri dari ketiga komponen tersebut
dinamakan nukleotida, sehingga DNA tergolong sebagai polinukleotida.
DNA terdiri dari gula deoksiribosa, basa nitrogen dan
fosfat. Basa nitrogen terdiri dari purin (adenine dan guanin) dan
pirimidin (sitosin dan timin). Bertindak sebagai tulang punggung rantai DNA
adalah gula dan fosfat. Struktur DNA adalah double heliks dengan
gula-fosfat berada di luar. Dua buah pilinan dihubungkan dengan ikatan
hidrogen antara basa-basa DNA. Basa adenine (A) berpasangan dengan timin
(T) dengan dua ikatan hidrogen, sedangkan basa sitosin (C) berpasangan dengan
basa guanine (G) melalui tiga ikatan hidrogen.
2.3 Dogma genetik
Konsep
dasar menurunnya sifat secara molekuler adalah merupakan aliran informasi dari DNA
ke RNA ke urutan asam amino. Konsep dasar ini disebut sebagai dogma
genetik. Pada dogma genetik juga tercermin cara mempertahankan ciri khas
supaya tetap sama melalui proses replikasi.
Dogma
genetik ini bersifat universal yang berlaku baik bagi prokariot maupun
eukariot.
2.4 Replikasi
DNA
Sintesis perbanyakan bahan genetik seperti DNA, dilakukan melalui
proses yang disebut replikasi. Replikasi dapat dikatakan merupakan reaksi kimia
yang mencirikan proses kehidupan. Melalui suatu replikasi, senyawa kimia dapat
membentuk dirinya untuk menghasilkan senyawa baru yang mirip dengan dirinya.
Replikasi hanya terjadi pada asam nukleat, DNA atau RNA. Molekul asam nukleat
yang mampu bereplikasi disebut replikon. Tidak ditemukan senyawa lain yang sintesisnya
dilakukan melalui replikasi.
Pada
sel, replikasi DNA terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota terus-menerus
melakukan replikasi DNA. Pada eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA
sangatlah teratur, yaitu pada fase S daur sel, sebelum mitosis atau meiosis I.
Penggandaan tersebut memanfaatkan enzim DNA polimerase yang membantu
pembentukan ikatan antara nukleotida-nukleotida penyusun polimer DNA. Proses
replikasi DNA dapat pula dilakukan in vitro dalam proses yang disebut reaksi
berantai polimerase (PCR). Dengan demikian, setiap sel yang melakukan mitosis
akan dihasilkan 2 sel anak yang memilki DNA lengkap sama persis dengan yang
dimiliki induknya.
Sebelum sel membelah, DNA harus direplikasi dalam fase S dari
siklus sel. Proses replikasi melibatkan enzim polymerase. Proses
ini melibatkan pembukaan utas ganda DNA, sehingga memungkinkan terjadinya
perpasangan basa untuk membentuk utas baru. Pembentukan utas komplementer
terjadi melalui perpasangan basa antara A dengan T dan G dengan C.
Dalam replikasi DNA, setiap utas DNA lama berperan sebagai cetakan untuk
membentuk DNA baru.
Model DNA Watson dan Crick menyatakan bahwa saat double
heliks bereplikasi, masing-masing dari kedua molekul anak akan mempunyai satu
untai lama yang erasal dari satu molekul induk dan satu untai yang baru.
Model replikasi ini disebut model semikonservatif.
Model lainnya adalah model konservatif dimana molekul induk
tetap dan molekul baru disintesis sejak awal. Model ketiga disebut model
dispersif yaitu bahwa keempat untai DNA, setelah replikasi double heliks,
mempunyai campuran anatara DNA baru dan DNA lama.
Pengujian yang dilakukan oleh Meselson dan Stahl menunjukkan
bahwa replikasi DNA terjadi secara semikonservatif.
Gambar : Replikasi DNA
Daerah penggandaan bergerak sepanjang DNA induk membentuk replication
fork. Pada daerah ini, kedua utas DNA yang baru, disintesis dengan
bantuan sekelompok enzim, salah satunya adalah DNA polimerase. Sintesis
DNA tidaklah berjalan secara kontinu pada kedua utas cetakan. Hal ini
karena kedua utas DNA tersusun sejajar berlawanan arah atau antiparalel.
Maka utas DNA baru akan tumbuh dari 5′ – 3′ sedang yang lainnya dari 3′ – 5′
pada cetakan. Sintesis dari 3′ – 5′ tidak mungkin dilakukan karena tidak
ada DNA polymerase untuk arah 3′ – 5′.
Replikasi DNA pada cetakan 3′ – 5′ terjadi seutas demi seutas
dengan arah 5′ – 3′ yang berarti replikasi berjalan meninggalkan replication
fork. Utas-utas pendek tersebut kemudian dihubungkan oleh enzim ligase
DNA. Dalam replikasi DNA terdapat utas DNA yang disintesis secara kontinu
yang terjadi pada cetakan 5′ – 3′. Utas DNA yang disintesis secara
kontinu ini disebut utas utama atau leading strand. Sedangkan
utas DNA baru yang disintesis pendek-pendek seutas-demi seutas disebut utas
lambat atau lagging strand. Utas-utas pendek atau
fragmen-fragmen pendek yang terbentuk disebut fragmen Okazaki.
Gambar
: Garpu Replikasi/Growing Fork
Sintesis pada leading strand memerlukan molekul primer pada
permulaan replikasi Setelah replication fork terbentuk,
polymerase akan bekerja secara kontinu sampai utas DNA baru selesai
direplikasi. Pada sintesis lagging strand, diperlukan enzim lain
primase DNA. Setelah utas DNA terbuka untuk melakukan replikasi, dan
setelah terbuka pada lagging strand, utas harus dijaga agar tetap
terbuka. Jadi dalam proses replikasi DNA melibatkan beberapa protein baik
berupa enzim maupun non-enzim yaitu :
1. Polimerase
DNA : enzim yang berfungsi mempolimerisasi nukleotida-nukleotida
2. Ligase
DNA : enzim yang berperan menyambung DNA utas lagging
3. Primase
DNA : enzim yang digunakan untuk memulai polimerisasi DNA pada lagging strand
4. Helikase
DNA : enzim yang berfungsi membuka jalinan DNA double heliks
5. Single
strand DNA-binding protein : mestabilkan DNA induk yang terbuka
Replication fork berasal dari struktur yang disebut
replication bubble yaitu daerah menggelembung tempat pilinan DNA induk terpisah
untuk berfungsi sebagi cetakan pada sintesis DNA.
2.5 Transkripsi
Transkripsi DNA merupakan proses pembentukan RNA dari DNA
sebagai cetakan. Proses transkripsi menghasilkan mRNA, rRNA dan tRNA. Pembentukan RNA
dilakukan oleh enzim RNA polymerase. Proses transkripsi terdiri dari 3
tahap yaitu :
1. Inisiasi
: enzim RNA polymerase menyalin gen, sehingga pengikatan RNA polymerase terjadi
pada tempat tertentu yaitu tepat didepan gen yang akan ditranskripsi.
Tempat pertemuan antara gen (DNA) dengan RNA polymerase disebut promoter.
Kemudian RNA polymerase membuka double heliks DNA. Salah satu utas DNA
berfungsi sebagai cetakan.
Nukleotida promoter pada eukariot adalah 5′-GNNCAATCT-3′ dan
5′- TATAAAT-3′. Simbul N menunjukkan nukleotida (bisa berupa A, T, G,
C). Pada prokariot, urutan promotornya adalah 5′-TTGACA-3′ dan
5′-TATAAT-3′.
2. Elongasi
: Enzim RNA polymerase bergerak sepanjang molekul DNA, membuka double heliks
dan merangkai ribonukleotida ke ujung 3′ dari RNA yang sedang tumbuh.
3. Terminasi
: terjadi pada tempat tertentu. Proses terminasi transkripsi ditandai
dengan terdisosiasinya enzim RNA polymerase dari DNA dan RNA dilepaskan.
Hasil transkripsi merupakan hasil yang memiliki intron
(segmen DNA yang tidak menyandikan informasi biologi) dan harus dihilangkan,
serta memiliki ekson yaitu ruas yang membawa informasi biologis. Intron
dihilangkan melalui proses yang disebut splicing. Proses splicing terjadi
di nukleus.
Splicing dimulai dengan terjadinya pemutusan pada ujung 5′,
selanjutnya ujung 5′ yang bebas menempelkan diri pada suatu tempat pada intron
dan membentuk struktur seperti laso yang terjadi karena ikatan
5′-2′fosfodiester. Selanjutnya tempat pemotongan pada ujung 3 terputus
sehingga dua buah ekson menjadi bersatu.
rRNA dan tRNA merupakan hasil akhir dari proses transkripsi,
sedangkan mRNA akan mengalami translasi.
tRNA adalah molekul adaptor yang membaca urutan nukleotida
pada mRNA dan mengubahnya menjadi asam amino. Struktur molekul tRNA
adalah seperti daun semanggi yang terdiri dari 5 komponen yaitu
1.
Lengan aseptor: merupakan tempat
menempelnya asam amino,
2.
Lengan D atau DHU: terdapat
dihidrourasil pirimidin,
3.
Lengan antikodon: memiliki
antikodon yang basanya komplementer dengan basa pada mRNA
4.
Lengan tambahan
5.
Lengan TUU: mengandung T, U dan C
2.6 Translasi
Bila dibandingkan dengan
transkripsi, translasi merupakan proses yang lebih rumit karena melibatkan
fungsi berbagai makromolekul. Oleh karena kebanyakan di antara makromolekul ini
terdapat dalam jumlah besar di dalam sel, maka sistem translasi menjadi bagian
utama mesin metabolisme pada tiap sel.
Pada prokariota yang terdiri dari satu ruang, proses
transkripsi dan translasi terjadi bersama-sama. Translasi merupakan
proses penerjemahan kodon-kodon pada mRNA menjadi polipeptida. Dalam proses
translasi, kode genetic merupakan aturan yang penting. Dalam kode
genetic, urutan nukleotida mRNA dibawa dalam gugus tiga – tiga. Setiap
gugus tiga disebut kodon. Dalam translasi, kodon dikenali oleh
lengan antikodon yang terdapat pada tRNA.
Mekanisme translasi adalah:
1. Inisiasi.
Proses ini dimulai dari menempelnya ribosom sub unit kecil ke mRNA.
Penempelan terjadi pada tempat tertentu yaitu pada 5′-AGGAGGU-3′, sedang pada
eukariot terjadi pada struktur tudung (7mGpppNpN). Selanjutnya ribosom
bergeser ke arah 3′ sampai bertemu dengan kodon AUG. Kodon ini menjadi
kodon awal. Asam amino yang dibawa oleh tRNA awal adalah metionin.
Metionin adalah asam amino yang disandi oleh AUG. pada bakteri, metionin
diubah menjadi Nformil metionin. Struktur gabungan antara mRNA, ribosom
sub unit kecil dan tRNA-Nformil metionin disebut kompleks inisiasi. Pada
eukariot, kompleks inisiasi terbentuk dengan cara yang lebih rumit yang
melibatkan banyak protein initiation factor.
2. Elongation.
Tahap selanjutnya adalah penempelan sub unit besar pada sub unit kecil
menghasilkan dua tempat yang terpisah . Tempat pertama adalah tempat P
(peptidil) yang ditempati oleh tRNA-Nformil metionin. Tempat kedua
adalah tempat A (aminoasil) yang terletak pada kodon ke dua dan kosong.
Proses elongasi terjadi saat tRNA dengan antikodon dan asam amino yang tepat
masuk ke tempat A. Akibatnya kedua tempat di ribosom terisi, lalu terjadi
ikatan peptide antara kedua asam amino. Ikatan tRNA dengan Nformil
metionin lalu lepas, sehingga kedua asam amino yang berangkai berada pada
tempat A. Ribosom kemudian bergeser sehingga asam amino-asam amino-tRNA
berada pada tempat P dan tempat A menjadi kosong. Selanjutnya tRNA dengan
antikodon yang tepat dengan kodon ketiga akan masuk ke tempat A, dan proses
berlanjut seperti sebelumnya.
3. Terminasi.
Proses translasi akan berhenti bila tempat A bertemu kodon akhir yaitu UAA,
UAG, UGA. Kodon-kodon ini tidak memiliki tRNA yang membawa
antikodon yang sesuai. Selanjutnya masuklah release factor (RF) ke tempat
A dan melepaska rantai polipeptida yang terbentuk dari tRNA yang
terakhir. Kemudian ribosom berubah menjadi sub unit kecil dan besar.
2.7 Fungsi Materi Genetik
Setelah terbukti bahwa DNA merupakan
materi genetik pada sebagian besar organisme, kita akan melihat fungsi yang
harus dapat dilaksanakan oleh molekul tersebut sebagai materi genetik. Dalam
beberapa dasawarsa pertama semenjak gen dikemukakan sebagai faktor yang
diwariskan dari generasi ke generasi, sifat-sifat molekulernya baru sedikit
sekali terungkap. Meskipun demikan, ketika itu telah disepakati bahwa gen
sebagai materi genetik, yang sekarang ternyata adalah DNA, harus dapat
menjalankan tiga fungsi pokok berikut ini.
- Materi genetik harus mampu menyimpan informasi genetik dan dengan tepat dapat meneruskan informasi tersebut dari tetua kepada keturunannya, dari generasi ke generasi. Fungsi ini merupakan fungsi genotipik, yang dilaksanakan melalui replikasi. Bagian setelah ini akan membahas replikasi DNA.
- Materi genetik harus mengatur perkembangan fenotipe organisme. Artinya, materi genetik harus mengarahkan pertumbuhan dan diferensiasi organisme mulai dari zigot hingga individu dewasa. Fungsi ini merupakan fungsi fenotipik, yang dilaksanakan melalui ekspresi gen.
- Materi genetik sewaktu-waktu harus dapat mengalami perubahan sehingga organisme yang bersangkutan akan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah. Tanpa perubahan semacam ini, evolusi tidak akan pernah berlangsung. Fungsi ini merupakan fungsi evolusioner, yang dilaksanakan melalui peristiwa mutasi.
2.8 Kode Genetik
Kode genetik mempunyai sifat-sifat
yang akan dijelaskan sebagai berikut.
1.
Kode genetik bersifat universal. Artinya,
kode genetik berlaku sama hampir di setiap spesies organisme.
2.
Kode genetik bersifat degenerate atau redundant,
yaitu bahwa satu macam asam amino dapat disandi oleh lebih dari satu triplet
kodon. Sebagai contoh, treonin dapat disandi oleh ACU, ACC, ACA, dan ACG. Sifat
ini erat kaitannya dengan sifat wobble basa ketiga,
yang artinya bahwa basa ketiga dapat berubah-ubah tanpa selalu disertai
perubahan macam asam amino yang disandinya. Diketahuinya sifat wobblebermula
dari penemuan basa inosin (I) sebagai basa pertama pada antikodon tRNAala ragi,
yang ternyata dapat berpasangan dengan basa A, U, atau pun C. Dengan demikian,
satu antikodon pada tRNA dapat mengenali lebih dari satu macam kodon pada mRNA.
3.
Oleh karena tiap kodon terdiri atas tiga buah basa,
maka tiap urutan basa mRNA, atau berarti juga DNA, mempunyai tiga rangka
baca yang berbeda (open reading frame). Di samping itu, di
dalam suatu segmen tertentu pada DNA dapat terjadi transkripsi dan translasi
urutan basa dengan panjang yang berbeda. Dengan perkataan lain, suatu segmen
DNA dapat terdiri atas lebih dari sebuah gen yang salingtumpang tindih (overlapping).
Ala: Alanine
|
Cys: Cysteine
|
Asp: Aspartic acid
|
Glu: Glutamic acid
|
Phe: Phenylalanine
|
Gly: Glycine
|
His: Histidine
|
Ile: Isoleucine
|
Lys: Lysine
|
Leu: Leucine
|
Met: Methionine
|
Asn: Asparagine
|
Pro: Proline
|
Gln: Glutamine
|
Arg: Arginine
|
Ser: Serine
|
Thr: Threonine
|
Val: Valine
|
Trp: Tryptophane
|
Tyr: Tyrosisne
|
Keterangan
Gambar :
2.9 Pengaturan Ekspresi Gen
Pengaturan ekspresi gen dapat
terjadi pada berbagai tahap, misalnya transkripsi, prosesing mRNA, atau
translasi. Namun, sejumlah data hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan
ekspresi gen, khususnya pada prokariot, paling banyak terjadi pada tahap
transkripsi.
Mekanisme pengaturan transkripsi,
baik pada prokariot maupun pada eukariot, secara garis besar dapat dibedakan
menjadi dua kategori utama, yaitu (1) mekanisme yang melibatkanpenyalapadaman (turn
on and turn off) ekspresi gen sebagai respon terhadap perubahan
kondisi lingkungan dan (2) sirkit ekspresi gen yang telah
terprogram (preprogramed circuits). Mekanisme penyalapadaman
sangat penting bagi mikroorganisme untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan yang seringkali terjadi secara tiba-tiba. Sebaliknya, bagi eukariot
mekanisme ini nampaknya tidak terlalu penting karena pada organisme ini sel
justru cenderung merespon sinyal-sinyal yang datang dari dalam tubuh, dan di
sisi lain, sistem sirkulasi akan menjadi penyangga bagi sel terhadap perubahan
kondisi lingkungan yang mendadak tersebut. Pada mekanisme sirkit, produk suatu
gen akan menekan transkripsi gen itu sendiri dan sekaligus memacu transkripsi
gen kedua, produk gen kedua akan menekan transkripsi gen kedua dan memacu
transkripsi gen ketiga, demikian seterusnya. Ekspresi gen yang berurutan ini
telah terprogram secara genetik sehingga gen-gen tersebut tidak akan dapat
diekspresikan di luar urutan. Oleh karena urutan ekspresinya berupa sirkit,
maka mekanisme tersebut dinamakan sirkit ekspresi gen.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka
dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1. Materi
genetik adalah Gen yang merupakan sepotong DNA yang
membawa informasi suatu sifat dan gen tersebut terdapat di dalam kromosom
2. Fungsi
dari materi genetik ini adalah sebagai berikut :
· harus mampu
menyimpan informasi genetik dan dengan tepat dapat meneruskan informasi
tersebut dari tetua kepada keturunannya, dari generasi ke generasi.
·
harus mengatur perkembangan fenotipe organisme.
Artinya, materi genetik harus mengarahkan pertumbuhan dan diferensiasi
organisme mulai dari zigot hingga individu dewasa.
·
harus dapat mengalami perubahan sehingga organisme
yang bersangkutan akan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah.
3. Kode genetik
bersifat universal. Artinya, kode genetik berlaku sama hampir di
setiap spesies organisme.
4. Kode genetik
bersifat degenerate atau redundant,
yaitu bahwa satu macam asam amino dapat disandi oleh lebih dari satu triplet
kodon.
5. Peran DNA di
dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak
biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme.
Subscribe to:
Posts (Atom)











